Sewaktu memungut sampah di rumah tetangga yang kaya, seorang
gadis muncul menatapku dengan rasa iba. Aku melihat matanya dengan penuh rasa
jijik. "Aku hanya seorang pemulung yang datang untuk memungut sampah yang
dikumpulkan," hatiku berbicara. Dia pun mendatangiku dengan penuh
perhatian, menanyakan siapa diriku, dan di mana aku tinggal. Tentunya itu
membuatku membencinya. Tapi sebagai makhluk suci, yang taat pada agama, aku
tetap tersenyum, dan menjawabnya dengan manis.
Ya, gadis yang berusia sama dengan usiaku, ya nama gadis itu
‘fatimah’. Fatimah, nama yang indah untuk seorang gadis seusia dia. Tapi tetap
tatapan pertama itu terasa menjijikkan. Jijik bukan karena aku terpaksa
menjawab pertanyaan-pertanyaannya, tapi jijik karena dia memperhatikanku, seakan-akan
aku membutuhkan rasa kasihnya. Keibaannya yang membuatku jengkel, yang
benar-benar membenci dirinya.
Keesokan harinya pun telah tiba. Aku pun melewati rumah
Fatimah. Dan melihat sampah yang bertumpuk banyak yang tidak seperti biasanya
di setiap pagiku. Aku pun mengambilnya, namun, di tengah-tengah pengambilan
sampah tersebut, aku pun berhenti. Ini sepertinya tumpukan sampah yang sebegitu banyaknya seolah-olah
Fatimah telah mengaturnya.
Aku jijik dengan rasa
kasihan itu. Dan membiarkan sisa sampah banyak itu berkeliaran di jalanan. Aku
berniat di keesokan harinya aku tak akan melewati rumah Fatimah itu.
Hari-hari pun melewati usiaku, jalan demi jalan mewarnai
angka sampah yang aku ambil dan uang yang aku peroleh. Di malam hari, aku
bersama adik-adiku, Anton, dan Budi. Mereka berdua tetap bersekolah walau pun
diriku yang seperti
ini. Uang yang aku peroleh kujadikan modal buat sekolah mereka. Aku tak ingin
mereka menjadi diriku, yang penuh kejijikan ini.
Mereka lumayan menghiburku, selalu. Sehabis pulang dari
sekolah, kadang mereka membawa mainan bekas dari ribuan tumpuan sampah yang ada
di samping rumah kardus kami. Mereka berdua sangat heboh bermain monopoli.
Mereka bermimpi untuk menjadi orang kaya. Rasa mual pun muncul dalam badanku.
Aku pun meneriaki mereka, “Ngapain
jadi orang kaya?!”, mereka berdua tertawa. Yah, mungkin menertawakan karena
mimpi mereka tak akan pernah tercapai.
Sewaktu di jalan memungut sampah, tiba-tiba seorang gadis
muncul di hadapanku, dengan muka yang kusam dan kotor. Dia juga seorang
pemulung yang sama dengan diriku. Aku pun ikut senang. Dia memperkenalkan diri.
Hani, nama yang indah, terlalu indah untuk seorang pemulung. Sedangkan Fatimah
sangat tak mencerminkan kepribadian jiwa yang agamais, kerjanya hanya main
mata, yang membuatku jijik.
Setiap kali di jalan, Hani menemaniku. Sampai-sampai
hubungan kami berdua pun sangat dekat. Kadang-kadang batas pertemanan kami
menjadi kabur. Aku sering mengajak dia datang ke rumah kardus yang usang kami,
dan bermain monopoli (mainan
bekas) bersama-sama. Ketika aku berteriak karena jijik mendengar mereka menyebut orang kaya,
Hani pun ikut tertawa.
Ada yang khas dari muka Hani. Kekhasan tak perlu melulu berhubungan dengan kulit
putih, tapi yang jelas
bisa menjadi suatu keistimewaan tersendiri. Dan kekhasan yang dimiliki Hani
merupakan luka yang ada di pipi sebelah kanannya. Namun, setiap memasuki waktu
magrib, tiba-tiba Hani pulang. Seakan-akan dirinya terbatas.
Hani tak hanya pulang kadang-kadang, tapi kegiatan pulang itu seperti rutinitas. Yang
bagiku itu tak normal. Aku pun curiga, sehingga ada niatku untuk mengikutinya.
Pada sebelum malam tiba, Hani pun pulang. Aku pun
mengikutinya dari belakang. Hani melewati jalan-jalan yang di mana-mana penuh
tumpukan sampah. Aku pun mengejarnya, karena tiba-tiba dia menghilang di balik ribuan tumpukan seperti
gunung-gunung itu.
Keesokan harinya, aku mulai risih. Aku merasa tatapan Hani
sama yang dimiliki Fatimah. Tatapan yang membuatku jijik. Apakah hani mulai
mengasihaniku?
Keesokan harinya lagi, aku pun merasa tak nyaman bersamanya.
Aku tak tahu mengapa dia memiliki tatapan tersebut. Aku tak mengajak dia
berbicara, dan membiarkan dirinya bersamaku memungut sampah.
Mungkin Hani merasakan apa yang kurasakan. Sehingga di
hari selanjutnya, Hani
pun menghilang. Aku pun mencarinya di tempat sebelumnya, yang di mana banyak
tumpukan seperti gunung itu. Aku pun berjalan melewati udara yang terik di
bawah marahnya matahari di langit sombong itu.
Berjalan melewati gunung-gunung sampah itu tak mudah. Aku
harus menahan rasa baunya, tapi toh, ini lucu jika aku tak bisa menahan rasa
baunya padahal ini adalah kebiasaanku setiap hari.
Salah satu gunung sampah itu, aku melihat dengan perasaan
jijik. Ternyata ada mobil mewah, yang aneh. Karena pada saat itu aku melihat
pandangan yang tak mengenakkan. Aku melihat fatimah sedang memakai make up di
dalam mobil mewah itu. Kemudian, seketika fatimah keluar dari mobil mewah itu,
dia berubah menjadi Hani!
Ternyata tatapan Hani dan Fatimah persis sama bukanlah suatu kebetulan! Karena kedua orang itu
sama, mereka sama-sama Fatimah.
Selama ini dia sudah berpura-pura menjadi Hani. Bekas luka di pipinya hanyalah
kedok!
Keesokan harinya, aku pun tak datang untuk memungut sampah.
Adik-adikku menggantikanku untuk sementara karena perasaan mual yang tak
tertahankan ini membuatku sakit demam.
Adik-adikku pun datang bersama dengan orang ke tiga, yang
terlihat kabur itu, samar-samar. Ternyata itu Hani!
Aku yang tak bisa berbicara karena aku sakit, Hani pun
merawatku dengan penuh perhatian, dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Tapi
bagaimana mungkin aku mencintaimu jika kepura-puraanmu justru menambah rasa
mualku. Apakah aku harus membencimu?
…
Suara Anton
Sebagai kakak kedua tertua, aku melihat kondisi kak Fathir
makin parah. Budi dan Aku secara tak sengaja bertemu dengan kak Hani saat kami memulung, kami pun
memanggilnya. Ketika kami membawa kak Hani, kami berdua sangat bersyukur. Di
tengah-tengah tumpukan sampah ini, rawan penyakit luka parah menjadi permanen.
Mudah-mudahan kak Fathir bisa sembuh dengan membawa kak Hani, agar luka parah
itu tak menjadi permanen.
___