Tuesday, November 20, 2018

Di ujung birokrasi dunia sihir

Jika di dunia nyata, kita hanya mengenal yang ‘masuk akal’. Dan itu juga tak jauh berbeda dengan dunia sihir yang tersembunyi dari dunia nyata. Masuk akal berarti membutuhkan sebuah tatanan atau aturan untuk mencapai keadilan. Dan itulah birokrasi.
Dalam film Fantastic Beasts: the Crimes of Grindelwald, kita akan menemukan tatanan tersebut. Yang menurut penulis itu merupakan sebuah ‘keanehan’ yang nyata. Dan keanehan tersebut berupa birokrasi yang lebih canggih, berupa kementerian sihir yang sama seperti kementrian lainnya yang ada di dunia nyata.
Kafka, seorang sastrawan, berpendapat bahwa hanya birokrasilah dapat menyambung kita pada dimensi ilahi. Ada semacam hubungan intim tercipta antara birokrasi dan kesenangan. Namun, ada sesuatu yang tak dapat ditembus oleh birokrasi. Dan itu merupakan ‘kenikmatan ilahi’.
‘Kenikmatan ilahi’, kata Kafka, merupakan sebuah keadilan bagi kita. Kita ingin menerima sebuah aturan karena kita menyepakati sebuah ideologi. Dalam film tersebut, kita menemukan sang tokoh utama, Newt, mengalami masalah. Dia ingin mendapatkan ijin agar dia bisa keluar negeri ke mana pun dengan membawa binatang-binatang buasnya yang luar biasa itu. Jadi dia dipanggil oleh kementerian sihir. Sayangnya, dia menolak karena dia tidak ingin mengikuti persyaratan yang diajukan oleh kementerian agar dia bisa bekerja untuk mereka sebagai agen.
Kasus kedua justru datang dari pacar sahabatnya, Queenie Goldstein. Dia merasakan dilema karena tak bisa menemukan ‘kenikmatan ilahi’ tersebut. Dia ingin menikahi sahabat Newt, Jacob. Jacob hanya manusia yang berasal dari dunia nyata. Ada peraturan dari kementerian sihir mengatakan bahwa pernikahan dari dua dunia berbeda itu terlarang, mengingat akibat dan dampaknya bagi kedua dunia tersebut.
Grindelwald pun muncul sebagai peran antagonis yang menjadi solusi bagi mereka berdua. Sayangnya, Grindelwald mempunyai ideologi berbeda dari ideologi mereka berdua yang sudah terbiasa dengan aturan dualisme dunia tersebut. Dia masih percaya dengan Pure Blood, atau darah murni penyihir, bisa membawa keadilan di dunia ini. Jadi dia bercita-cita menguasai dunia dengan menghancurkan batasan tersebut sebagai batu loncatan!
Nilai buat fantastic beasts seri kedua ini 7,5/10
Share:

Thursday, July 12, 2018

Sartre dan Dinding: Ulasan Albert Camus, dan juga, abnormalitas

Jean-Paul Sartre, yang Mual-nya diulas dalam kolom ini, baru saja menerbitkan kumpulan cerita pendek di mana tema aneh dan pahit novel pertamanya muncul sekali lagi, dalam bentuk yang berbeda. Pria yang dijatuhi hukuman mati, orang gila, seorang cabul seksual, seorang pria yang menderita impotensi, dan seorang homoseksual membentuk karakter dalam kisah-kisah ini. Orang mungkin bertanya-tanya tentang bias dari pilihan-pilihan ini. Tapi sudah, di Mual, tujuan penulis adalah mengubah kasus luar biasa menjadi cerita sehari-hari. Itu berada pada batas-batas jauh dari hati dan naluri bahwa Sartre menemukan inspirasinya.

Tetapi ini perlu definisi lebih lanjut. Seseorang dapat membuktikan bahwa orang yang paling biasa adalah monster yang meyimpang dan bahwa, misalnya, kita semua kurang lebih mengharapkan kematian orang-orang yang kita cintai. Setidaknya, ini adalah tujuan dari jenis sastra tertentu. Tampaknya bagi saya ini bukan tujuan Sartre. Dan, dengan risiko menjadi bayangan yang berlebihan, saya akan mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa makhluk yang paling jahat bertindak, bereaksi, dan menggambarkan dirinya dengan cara yang persis sama seperti yang paling biasa. Dan jika ada kritik yang harus dibuat, itu hanya akan menyangkut penggunaan pengarang yang membuat kecabulan.

Kecabulan dalam sastra dapat mencapai kemegahan tertentu. Ini tentu mengandung unsur keagungan, jika seseorang berpikir untuk contoh Shakespeare. Tapi setidaknya kecabulan harus diserukan oleh pekerjaan itu sendiri. Dan sementara ini mungkin kasus untuk "Erostrate" di Dinding, saya tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk Intimité, di mana deskripsi seksual sering tampak serampangan.

M. Sartre memiliki rasa tertentu untuk impotensi, baik dalam arti kata yang lebih besar dan dalam arti fisiologisnya, yang mengarahkannya untuk memilih karakter yang telah sampai pada batas-batas diri mereka, tersandung atas absurditas yang tidak dapat mereka atasi. Kendala yang mereka hadapi adalah hidup mereka sendiri, dan saya akan mengatakan lebih jauh bahwa mereka melakukannya melalui kebebasan yang berlebihan.

Makhluk-makhluk ini, tanpa keterikatan, tanpa prinsip, begitu bebas sehingga mereka hancur, tuli terhadap panggilan tindakan atau penciptaan. Satu masalah menyita perhatian mereka, dan mereka tidak mendefinisikannya. Dari sinilah timbul minat yang sangat besar dan penguasaan yang mutlak terhadap kisah-kisah Sartre.

Apakah seseorang mengambil Lucien yang muda, yang dimulai dengan surealisme dan berakhir dalam Tindakan Française; Eve, yang suaminya gila dan yang ingin sekali masuk ke ranah gila dari mana ia dikecualikan; atau pahlawan "Erostrate"; semua karakter ini, katakan, atau merasakan tak terduga. Dan sejak saat mereka diperkenalkan kepada kami, tidak ada petunjuk tentang apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Seni Sartre terletak pada detail yang ia gambarkan dengan mahluknya yang absurd, cara dia mengamati perilaku monoton mereka. Dia menjelaskan, menyarankan sangat sedikit tetapi dengan sabar mengikuti karakternya dan menganggap penting hanya untuk tindakan mereka yang paling sia-sia.

Tidak mengherankan jika mengetahui bahwa pada saat ia memulai ceritanya, penulis sendiri tidak yakin ke mana ia akan menuntunnya. Namun, daya tarik yang ditimbulkan oleh kisah semacam itu tidak dapat disangkal. Seseorang tidak dapat meletakkannya, dan segera pembaca juga memperoleh kebebasan yang lebih tinggi dan absurd yang mengarahkan karakter ke tujuan mereka sendiri.

Untuk karakternya, pada kenyataannya, bebas. Tetapi kebebasan mereka tidak ada gunanya bagi mereka. Setidaknya, inilah yang ditunjukkan oleh Sartre. Dan tidak diragukan lagi ini menjelaskan dampak emosional yang luar biasa dari halaman-halaman ini serta kesengsaraan mereka yang kejam. Karena di alam semesta ini manusia bebas dari belenggu prasangkanya, kadang-kadang dari sifatnya sendiri, dan, direduksi menjadi kontemplasi-diri, menjadi sadar akan ketidakpeduliannya yang mendalam terhadap segala sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Dia sendirian, tertutup dalam kebebasan ini. Ini adalah kebebasan yang hanya ada pada waktunya, karena kematian memberikan pengingkaran yang cepat dan memusingkan. Kondisinya absurd. Dia tidak akan pergi lebih jauh lagi, dan kejaiban di pagi hari ketika kehidupan yang dimulai lagi telah kehilangan semua arti baginya.

Bagaimana seseorang tetap jernih dihadapkan dengan kebenaran semacam itu? Adalah normal bagi makhluk-makhluk seperti itu, yang dirampas dari rekreasi manusia — film, cinta, atau Legiun Kehormatan — untuk mundur ke dunia yang tidak manusiawi di mana mereka akan kali ini menempa rantai mereka sendiri: kegilaan, mania seksual, atau kejahatan. Eve ingin menjadi gila. Tokoh protagonis "Erostrate" ingin melakukan kejahatan, dan Lulu ingin hidup dengan suaminya yang impoten.

Mereka yang melarikan diri dari perubahan ini atau yang tidak menyelesaikannya selalu dapat merindukan pemusnahan diri yang mereka tawarkan. Dan, dalam yang terbaik dari cerita pendek ini, La Chambre, Eve melihat igauan suaminya dan menyiksa dirinya sendiri untuk menemukan rahasia alam semesta ini di mana dia ingin diserap, dari ruang terisolasi ini di mana dia ingin tidur dengan pintu selamanya tertutup.

Alam semesta yang intens dan dramatis ini, penggambaran yang cemerlang namun tidak berwarna ini, adalah definisi yang baik tentang karya Sartre dan daya tariknya. Dan seseorang sudah dapat berbicara tentang "pekerjaan" seorang penulis yang, dalam dua buku, telah mengetahui bagaimana untuk langsung menuju masalah penting dan menghidupkannya melalui karakter obsesifnya. Seorang penulis hebat selalu membawa dunianya sendiri dan pesannya. Sartre membawa kita ke ketiadaan, tetapi juga untuk kejernihan. Dan gambar yang ia lestarikan melalui tokoh-tokohnya, dari seorang lelaki yang duduk di tengah reruntuhan hidupnya, adalah ilustrasi yang baik tentang kebesaran dan kebenaran dari karya ini.
Share:

Wednesday, July 11, 2018

Kebencianku bukan cintamu


Sewaktu memungut sampah di rumah tetangga yang kaya, seorang gadis muncul menatapku dengan rasa iba. Aku melihat matanya dengan penuh rasa jijik. "Aku hanya seorang pemulung yang datang untuk memungut sampah yang dikumpulkan," hatiku berbicara. Dia pun mendatangiku dengan penuh perhatian, menanyakan siapa diriku, dan di mana aku tinggal. Tentunya itu membuatku membencinya. Tapi sebagai makhluk suci, yang taat pada agama, aku tetap tersenyum, dan menjawabnya dengan manis.

Ya, gadis yang berusia sama dengan usiaku, ya nama gadis itu ‘fatimah’. Fatimah, nama yang indah untuk seorang gadis seusia dia. Tapi tetap tatapan pertama itu terasa menjijikkan. Jijik bukan karena aku terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaannya, tapi jijik karena dia memperhatikanku, seakan-akan aku membutuhkan rasa kasihnya. Keibaannya yang membuatku jengkel, yang benar-benar membenci dirinya.

Keesokan harinya pun telah tiba. Aku pun melewati rumah Fatimah. Dan melihat sampah yang bertumpuk banyak yang tidak seperti biasanya di setiap pagiku. Aku pun mengambilnya, namun, di tengah-tengah pengambilan sampah tersebut, aku pun berhenti. Ini sepertinya tumpukan sampah yang sebegitu banyaknya seolah-olah Fatimah telah mengaturnya.

 Aku jijik dengan rasa kasihan itu. Dan membiarkan sisa sampah banyak itu berkeliaran di jalanan. Aku berniat di keesokan harinya aku tak akan melewati rumah Fatimah itu.

Hari-hari pun melewati usiaku, jalan demi jalan mewarnai angka sampah yang aku ambil dan uang yang aku peroleh. Di malam hari, aku bersama adik-adiku, Anton, dan Budi. Mereka berdua tetap bersekolah walau pun diriku yang seperti ini. Uang yang aku peroleh kujadikan modal buat sekolah mereka. Aku tak ingin mereka menjadi diriku, yang penuh kejijikan ini.

Mereka lumayan menghiburku, selalu. Sehabis pulang dari sekolah, kadang mereka membawa mainan bekas dari ribuan tumpuan sampah yang ada di samping rumah kardus kami. Mereka berdua sangat heboh bermain monopoli. Mereka bermimpi untuk menjadi orang kaya. Rasa mual pun muncul dalam badanku. Aku pun meneriaki mereka, “Ngapain jadi orang kaya?!”, mereka berdua tertawa. Yah, mungkin menertawakan karena mimpi mereka tak akan pernah tercapai.

Sewaktu di jalan memungut sampah, tiba-tiba seorang gadis muncul di hadapanku, dengan muka yang kusam dan kotor. Dia juga seorang pemulung yang sama dengan diriku. Aku pun ikut senang. Dia memperkenalkan diri. Hani, nama yang indah, terlalu indah untuk seorang pemulung. Sedangkan Fatimah sangat tak mencerminkan kepribadian jiwa yang agamais, kerjanya hanya main mata, yang membuatku jijik.

Setiap kali di jalan, Hani menemaniku. Sampai-sampai hubungan kami berdua pun sangat dekat. Kadang-kadang batas pertemanan kami menjadi kabur. Aku sering mengajak dia datang ke rumah kardus yang usang kami, dan bermain monopoli (mainan bekas) bersama-sama. Ketika aku berteriak karena jijik mendengar mereka menyebut orang kaya, Hani pun ikut tertawa.

Ada yang khas dari muka Hani. Kekhasan tak perlu melulu berhubungan dengan kulit putih, tapi yang jelas bisa menjadi suatu keistimewaan tersendiri. Dan kekhasan yang dimiliki Hani merupakan luka yang ada di pipi sebelah kanannya. Namun, setiap memasuki waktu magrib, tiba-tiba Hani pulang. Seakan-akan dirinya terbatas.

Hani tak hanya pulang kadang-kadang, tapi kegiatan pulang itu seperti rutinitas. Yang bagiku itu tak normal. Aku pun curiga, sehingga ada niatku untuk mengikutinya.

Pada sebelum malam tiba, Hani pun pulang. Aku pun mengikutinya dari belakang. Hani melewati jalan-jalan yang di mana-mana penuh tumpukan sampah. Aku pun mengejarnya, karena tiba-tiba dia menghilang di balik ribuan tumpukan seperti gunung-gunung itu.

Keesokan harinya, aku mulai risih. Aku merasa tatapan Hani sama yang dimiliki Fatimah. Tatapan yang membuatku jijik. Apakah hani mulai mengasihaniku?

Keesokan harinya lagi, aku pun merasa tak nyaman bersamanya. Aku tak tahu mengapa dia memiliki tatapan tersebut. Aku tak mengajak dia berbicara, dan membiarkan dirinya bersamaku memungut sampah.

Mungkin Hani merasakan apa yang kurasakan. Sehingga di hari selanjutnya, Hani pun menghilang. Aku pun mencarinya di tempat sebelumnya, yang di mana banyak tumpukan seperti gunung itu. Aku pun berjalan melewati udara yang terik di bawah marahnya matahari di langit sombong itu.

Berjalan melewati gunung-gunung sampah itu tak mudah. Aku harus menahan rasa baunya, tapi toh, ini lucu jika aku tak bisa menahan rasa baunya padahal ini adalah kebiasaanku setiap hari.

Salah satu gunung sampah itu, aku melihat dengan perasaan jijik. Ternyata ada mobil mewah, yang aneh. Karena pada saat itu aku melihat pandangan yang tak mengenakkan. Aku melihat fatimah sedang memakai make up di dalam mobil mewah itu. Kemudian, seketika fatimah keluar dari mobil mewah itu, dia berubah menjadi Hani!

Ternyata tatapan Hani dan Fatimah persis sama bukanlah suatu kebetulan! Karena kedua orang itu sama, mereka sama-sama Fatimah. Selama ini dia sudah berpura-pura menjadi Hani. Bekas luka di pipinya hanyalah kedok!

Keesokan harinya, aku pun tak datang untuk memungut sampah. Adik-adikku menggantikanku untuk sementara karena perasaan mual yang tak tertahankan ini membuatku sakit demam.

Adik-adikku pun datang bersama dengan orang ke tiga, yang terlihat kabur itu, samar-samar. Ternyata itu Hani!

Aku yang tak bisa berbicara karena aku sakit, Hani pun merawatku dengan penuh perhatian, dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Tapi bagaimana mungkin aku mencintaimu jika kepura-puraanmu justru menambah rasa mualku. Apakah aku harus membencimu?

Suara Anton

Sebagai kakak kedua tertua, aku melihat kondisi kak Fathir makin parah. Budi dan Aku secara tak sengaja bertemu dengan kak Hani saat kami memulung, kami pun memanggilnya. Ketika kami membawa kak Hani, kami berdua sangat bersyukur. Di tengah-tengah tumpukan sampah ini, rawan  penyakit luka parah menjadi permanen. Mudah-mudahan kak Fathir bisa sembuh dengan membawa kak Hani, agar luka parah itu tak menjadi permanen.

___

Share:

Tuesday, July 10, 2018

Aku menulis maka aku ada: ulasan Albert Camus terhadap Sartre

Sebuah novel tak akan pernah menjadi segalanya tetapi sebuah filsafat yang terungkap dalam gambar-gambar. Dan di dalam novel yang baik, filsafat menghilang ke dalam gambar. Tetapi filsafat perlu menumpahkan diri ke dalam karakter-karakter dan aksi untuk bertahan seperti jari jempol yang memar, alur ceritanya pun kehilangan keasilannya, dan novel tersebut menjadi hidup.

Namun, sebuah karya yang memikul penderitaan tak dapat berjalan tanpa ide-ide mendalam. Dan rahasia dari perpaduan pengalaman dan pikiran ini, dalam kehidupan dan refleksi makna kehidupan, menciptakan seorang novelis yang hebat (seperti kita lihat dalam karyanya, Man's Fate).

Novel yang dipertanyakan hari ini merupakan novel yang menghancurkan keseimbangan, di mana teori-teori merusak kehidupan. Sesuatu yang sering terjadi. Tetapi yang menarik di Mual, karya Sartre, merupakan karunia fiktif yang luar biasa, dan lakon kapak terberat dan paling jernih yang bersamaan dicurahkan dan dihambur-hamburkan.

Secara pribadi, setiap bab dari meditasi yang luar biasa ini mencapai semacam kesempurnaan dalam kepahitan dan kebenaran.

Novel yang berlokasi - pelabuhan kecil di bagian utara Prancis, seorang borjuasi pemilik kapal yang menggabungkan ketaatan beragam dengan kesenangan meja, sebuah restoran di mana latihan makan berubah menjadi menjijikan di mata narator - segala sesuatu menyangkut sistem mekanis eksistensi, singkatnya, digambarkan dengan sentuhan yang kejernihannya tidak menyisakan ruang untuk harapan.

Demikian pula, cerminan yang tepat, seorang wanita tua yang digambarkan berlari tanpa tujuan di sepanjang jalan sempit, terlempar dalam pengasingan, yang berupa gambaran filsafat kesedihan yang terkenal teringkas dalam pemikiran Kierkegaard, Chestov, Jaspers, atau Heidegger. Kedua rupa novel itu sama-sama meyakinkan.

Tetapi jika digabungkan bersama, malah tak menambah keindahan: bagian dari satu ke yang lain terlalu cepat, terlalu tidak termotivasi, untuk membangkitkan keyakinan mendalam terhadap pembaca tentang seni novel.

Buku itu memang tak terlihat seperti novel melainkan sebuah monolog. Seorang pria menghakimi hidupnya, dan sangat terpaku dalam dirinya. Maksud saya, dia menganalisis kehadirannya di dunia, fakta bahwa dia menggerakkan jari-jarinya dan makan pada jam-jam biasa — dan apa yang dia temukan di dasar tindakan paling dasar adalah absurditasnya yang mendasar.

Dalam tata kehidupan terbaik, selalu ada saat ketika struktur runtuh. Mengapa ini dan itu, wanita ini, pekerjaan atau keinginan itu untuk masa depan? Untuk menjelaskannya secara singkat, mengapa keinginan kuat untuk hidup dalam anggota tubuh yang ditakdirkan membusuk?

Perasaan tersebut terasa begitu familiar bagi kita semua. Bagi kebanyakan pria, pendekatan makan malam, kedatangan surat, atau senyuman dari seorang gadis yang lewat sudah cukup untuk membantu mereka mengatasinya. Tetapi orang yang suka menggali ide menemukan bahwa berhadapan dengan yang satu ini membuat hidupnya mustahil.  Dan untuk hidup dengan perasaan bahwa hidup itu tidak ada artinya menimbulkan kesedihan. Dari hidup semata-mata melawan arus, seluruh keberadaan seseorang dapat diatasi dengan rasa jijik dan jijik, dan pemberontakan tubuh ini berupa rasa mual.

Subjek yang aneh, tentu saja, namun yang paling dangkal. Sartre menyimpulkan dengan semangat dan kepastian yang menunjukkan betapa terlihat biasanya bentuk rasa jijik yang menjadi itu. Di sinilah kesamaan antara Sartre dan penulis lain, yang, kecuali saya salah, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Mual, dapat ditemukan. Maksud saya Franz Kafka.

Tetapi perbedaannya dengan Novel Sartre itu, beberapa hambatan yang tak pasti mencegah pembaca untuk berpartisipasi dan menahannya ketika ia berada di ambang persetujuan. Saya menghubungkan ini dengan kurangnya keseimbangan antara ide-ide dalam pekerjaan dan gambar yang mengekspresikannya. Tetapi itu mungkin sesuatu yang lain.  Karena itu adalah kegagalan literatur tertentu untuk percaya bahwa hidup itu tragis karena itu celaka.

Kehidupan bisa menakjubkan dan membingungkan - itulah tragedinya. Tanpa kecantikan, cinta, atau bahaya, munkin akan mudah untuk hidup. Dan pahlawan yang digambarkan Sartre tidak mungkin memberi kita arti sebenarnya dari kesedihannya ketika dia bersikeras pada aspek-aspek manusia yang dia temukan menjijikkan, bukannya mendasarkan alasannya untuk putus asa pada tanda-tanda kebesaran seseorang.

Kesadaran bahwa hidup itu tidak masuk akal tidak bisa menjadi akhir, tetapi hanya permulaan. Ini adalah kebenaran yang hampir semua pemikir hebat telah ambil andil sebagai titik awal mereka. Bukan penemuan ini yang menarik, tetapi konsekuensi dan aturan untuk tindakan yang dapat diambil darinya. Pada akhir perjalanannya menuju perbatasan kecemasan, M. Sartre tampaknya mengesahkan satu harapan: yaitu pencipta yang menemukan pembebasan secara tertulis.

Dari keraguan yang semula mungkin akan muncul tangisan "Aku menulis, karena itu aku ada." Dan seseorang tidak dapat membantu menemukan sesuatu yang agak lucu dalam ketidakseimbangan antara harapan terakhir ini dan pemberontakan yang melahirkannya. Karena, dalam upaya terakhir, hampir semua penulis tahu betapa sepele pekerjaan mereka ketika dibandingkan dengan momen-momen tertentu dalam hidup mereka. Objek M. Sartre adalah untuk menggambarkan momen-momen ini. Kenapa dia tidak pergi sampai akhir?

Namun mungkin, ini adalah novel pertama oleh seorang penulis yang semuanya diharapkan. Jadi, keluwesan alamiah dalam mempertahankan batas-batas pikiran sadar, begitu menyakitkan, jelas merupakan indikasi dari karunia tanpa batas. Ini adalah dasar untuk menyambut Mual sebagai panggilan pertama dari pikiran yang asli dan penuh semangat yang pelajaran dan pekerjaannya akan datang, kami tidak sabar untuk melihat.
Share:

Wednesday, July 4, 2018

Jika agama itu pekerjaan


Kata ‘jika’ merupakan kata yang sering dipakai saat mengandaikan sesuatu yang mustahil. Bisa jadi sesuatu yang kita sesali atau pun yang kita inginkan namun tak terjadi. Jadi ada dua hal yang nampak pada saat kita membahas kata ‘jika’, yaitu masa lalu yang pahit, dan keinginan tak tercapai. Masa lalu yang pahit berhubungan erat dengan masalah-masalah yang tak bisa dilalui secara mulus, dan selalu berakhir dengan bad ending (akhir buruk) sedangkan keinginan yang tak tercapai merupakan sesuatu yang kita inginkan tapi itu justru tak pernah menemui realitas sebenarnya. Pada akhirnya, kata ‘jika’ adalah sebuah kata yang absurd karena kata itu hanyalah sebuah kata belaka yang tak pernah mencapai realitasnya.

Agama-agama saat ini sudah memasuki wilayah panas. Dalam artian, agama sudah memasuki situasi warning (peringatan) yang bisa saja memicu perang antar manusia. Namun, penulis yakin agama lebih merupakan sebuah hak pilih ketimbang hak lahir. Hak lahir kadang memicu peperangan. Misalnya perang antar kulit. Mengapa mesti kulit hitam memiliki budaya rendah sedangkan budaya putih lebih tinggi? Apakah maksud dari ini? Belum lagi kita melihat sejarah amerika serikat di mana rakyat pribumi (suku Indian) diperangi oleh orang inggris di catatan sejarah. Hak lahir memicu antagonisme.

Setidaknya tulisan ini tak membahas apakah agama itu hak lahir maupun hak pilih, yang akan berkalut-kalut jika membahasnya. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan catatan sejarah dunia yang tak memiliki ujung yang pasti. Jika agama itu pekerjaan, maka apa yang terjadi?

Keikhlasan akan diuji
Ini bukanlah ilusi tapi melainkan fakta. Para kaum agamawan pastinya sudah mengenal hal ini. Para lulusan universitas jurusan agama mana pun akan melalui pengalaman pahit yang tak terhindarkan ini. Agama, tak dipungkiri lagi, merupakan suatu jurusan yang ada di setiap universitas saat ini. Apa lagi universitas tersebut merupakan universitas agama. Tentunya akan sulit jika ini dijadikan lahan pekerjaan.
Namun, menariknya jika ini dijadikan sebagai jurusan yang ada di universitas, maka ini akan lebih memanusiakan manusia ketimbang yang bukan berada di jurusan yang sama. Walaupun pada akhirnya, jurusan ini akan merasakan pahitnya. Ketika mereka bekerja demi materi, akan ada konflik batin dengan keikhlasan. Agama mengajarkan kita agar melakukan kebaikan demi sebuah amal kebajikan yang berasal dari diri kita, sedangkan pekerjaan lebih merujuk kepada dunia materi.
Jika kita bekerja dengan jurusan agama, konflik ini akan selalu menghantui kita. Apakah kita benar-benar beragama atau kita beragama atas nama materi?

Tak lepas dari konflik
Perang agama sudah sangat lama berada di catatan sejarah. Bahkan, perang sesama dalam satu agama pun. Menariknya, jika agama itu pekerjaan, maka agama memiliki perusahaan-perusahaan yang di mana pegawainya bertugas untuk menarik perhatian para konsumennya. Yang dijualnya adalah pedoman hidup mana yang lebih baik.
Tak lepas dari konflik kemungkinan besar ketika agama itu bersaing dengan agama lain yang dalam bentuk perusahaan itu. Memang sulit dipungkiri bahwa Marx melihat ini sebagai akhir lain dari kapitalisme (selain dari kesadaran para buruh). Perusahaan tentunya kapitalis. Karena tak mungkin menjalankan perusahaan jika tak kapitalis. Kapitalis merupakan budaya menghimpun pada satu titik baik itu dari segi materi maupun ide. Jadi mau tak mau perusahaan akan menimbulkan persaingan dengan perusahaan lainnya. Intinya mereka yang ada di perusahaan mencari cara untuk menjatuhkan perusahaan lainnya agar tak tersaingi. Mau tak mau akan berakhir konflik jika persaingan itu tak sehat.

Tuhan akan pensiun (dini)
Mungkin ini agak sedikit ekstrim. Tapi bagi pembaca yang sensitif, agar mohon memaklumi bahwa tuhan yang dimaksud di sini tak lain bersifat fiktif dan bukan fakta.
Posisi atau jabatan siapa yang tertinggi di dalam sebuah agama dan jika agama itu sebuah pekerjaan? Tentunya seorang atasan jika sebuah perusahaan, dan apakah itu Tuhan jika agama itu perusahaan?
Hal yang menarik dan sekali pun juga absurd ketika persaingan yang ditimbulkan mulai tidak sehat, main curang satu sama lain, promosi dengan kata-kata yang menarik perhatian tapi tak berkaitan dengan kenyataan, atau bahnkan memanggil seorang pembunuh bayaran (malaikat maut?) agar Tuhan di perusahaan agama lainnya bisa ditembak mati (?).
Tentunya tuhan akan melakukan pensiun dini jika persaingan antar perusahaan agama tak sehat. Atau mungkin mati ditembak oleh seorang pembunuh bayaran itu. Akan tetapi sebagai hukum alam, Tuhan yang bertindak boss mau tak mau melihat karyawan yang memiliki potensi agar bisa menggantikan posisi-Nya nanti. Toh, jika agama itu pekerjaan…

Ini akan menjadi kepiluan yang sangat… ironis.

Share: