Kata ‘jika’ merupakan kata yang sering dipakai saat
mengandaikan sesuatu yang mustahil. Bisa jadi sesuatu yang kita sesali atau pun
yang kita inginkan namun tak terjadi. Jadi ada dua hal yang nampak pada saat
kita membahas kata ‘jika’, yaitu masa lalu yang pahit, dan keinginan tak
tercapai. Masa lalu yang pahit berhubungan erat dengan masalah-masalah yang tak
bisa dilalui secara mulus, dan selalu berakhir dengan bad ending (akhir buruk) sedangkan keinginan yang tak tercapai
merupakan sesuatu yang kita inginkan tapi itu justru tak pernah menemui realitas
sebenarnya. Pada akhirnya, kata ‘jika’ adalah sebuah kata yang absurd karena
kata itu hanyalah sebuah kata belaka yang tak pernah mencapai realitasnya.
Agama-agama saat ini sudah memasuki wilayah
panas. Dalam artian, agama sudah memasuki situasi warning (peringatan) yang bisa saja memicu perang antar manusia.
Namun, penulis yakin agama lebih merupakan sebuah hak pilih ketimbang hak lahir.
Hak lahir kadang memicu peperangan. Misalnya perang antar kulit. Mengapa mesti
kulit hitam memiliki budaya rendah sedangkan budaya putih lebih tinggi? Apakah
maksud dari ini? Belum lagi kita melihat sejarah amerika serikat di mana rakyat
pribumi (suku Indian) diperangi oleh orang inggris di catatan sejarah. Hak
lahir memicu antagonisme.
Setidaknya tulisan ini tak membahas apakah
agama itu hak lahir maupun hak pilih, yang akan berkalut-kalut jika
membahasnya. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan catatan sejarah dunia yang tak
memiliki ujung yang pasti. Jika agama itu pekerjaan, maka apa yang terjadi?
Keikhlasan akan diuji
Ini bukanlah ilusi tapi melainkan fakta. Para
kaum agamawan pastinya sudah mengenal hal ini. Para lulusan universitas jurusan
agama mana pun akan melalui pengalaman pahit yang tak terhindarkan ini. Agama,
tak dipungkiri lagi, merupakan suatu jurusan yang ada di setiap universitas
saat ini. Apa lagi universitas tersebut merupakan universitas agama. Tentunya
akan sulit jika ini dijadikan lahan pekerjaan.
Namun, menariknya jika ini dijadikan sebagai
jurusan yang ada di universitas, maka ini akan lebih memanusiakan manusia
ketimbang yang bukan berada di jurusan yang sama. Walaupun pada akhirnya, jurusan
ini akan merasakan pahitnya. Ketika mereka bekerja demi materi, akan ada konflik
batin dengan keikhlasan. Agama mengajarkan kita agar melakukan kebaikan demi
sebuah amal kebajikan yang berasal dari diri kita, sedangkan pekerjaan lebih
merujuk kepada dunia materi.
Jika kita bekerja dengan jurusan agama, konflik
ini akan selalu menghantui kita. Apakah kita benar-benar beragama atau kita
beragama atas nama materi?
Tak lepas dari konflik
Perang agama sudah sangat lama berada di
catatan sejarah. Bahkan, perang sesama dalam satu agama pun. Menariknya, jika
agama itu pekerjaan, maka agama memiliki perusahaan-perusahaan yang di mana
pegawainya bertugas untuk menarik perhatian para konsumennya. Yang dijualnya
adalah pedoman hidup mana yang lebih baik.
Tak lepas dari konflik kemungkinan besar ketika
agama itu bersaing dengan agama lain yang dalam bentuk perusahaan itu. Memang
sulit dipungkiri bahwa Marx melihat ini sebagai akhir lain dari kapitalisme (selain dari kesadaran para buruh). Perusahaan
tentunya kapitalis. Karena tak mungkin menjalankan perusahaan jika tak
kapitalis. Kapitalis merupakan budaya menghimpun pada satu titik baik itu dari
segi materi maupun ide. Jadi mau tak mau perusahaan akan menimbulkan persaingan
dengan perusahaan lainnya. Intinya mereka yang ada di perusahaan mencari cara
untuk menjatuhkan perusahaan lainnya agar tak tersaingi. Mau tak mau akan
berakhir konflik jika persaingan itu tak sehat.
Tuhan akan pensiun
(dini)
Mungkin ini agak sedikit ekstrim. Tapi bagi
pembaca yang sensitif, agar mohon memaklumi bahwa tuhan yang dimaksud di sini
tak lain bersifat fiktif dan bukan fakta.
Posisi atau jabatan siapa yang tertinggi di
dalam sebuah agama dan jika agama itu sebuah pekerjaan? Tentunya seorang atasan
jika sebuah perusahaan, dan apakah itu Tuhan jika agama itu perusahaan?
Hal yang menarik dan sekali pun juga absurd
ketika persaingan yang ditimbulkan mulai tidak sehat, main curang satu sama
lain, promosi dengan kata-kata yang menarik perhatian tapi tak berkaitan dengan
kenyataan, atau bahnkan memanggil seorang pembunuh bayaran (malaikat maut?)
agar Tuhan di perusahaan agama lainnya bisa ditembak mati (?).
Tentunya tuhan akan melakukan pensiun dini jika
persaingan antar perusahaan agama tak sehat. Atau mungkin mati ditembak oleh seorang
pembunuh bayaran itu. Akan tetapi sebagai hukum alam, Tuhan yang bertindak boss
mau tak mau melihat karyawan yang memiliki potensi agar bisa menggantikan
posisi-Nya nanti. Toh, jika agama itu pekerjaan…
Ini akan menjadi kepiluan yang sangat… ironis.
0 comments:
Post a Comment