Wednesday, July 4, 2018

Jika agama itu pekerjaan


Kata ‘jika’ merupakan kata yang sering dipakai saat mengandaikan sesuatu yang mustahil. Bisa jadi sesuatu yang kita sesali atau pun yang kita inginkan namun tak terjadi. Jadi ada dua hal yang nampak pada saat kita membahas kata ‘jika’, yaitu masa lalu yang pahit, dan keinginan tak tercapai. Masa lalu yang pahit berhubungan erat dengan masalah-masalah yang tak bisa dilalui secara mulus, dan selalu berakhir dengan bad ending (akhir buruk) sedangkan keinginan yang tak tercapai merupakan sesuatu yang kita inginkan tapi itu justru tak pernah menemui realitas sebenarnya. Pada akhirnya, kata ‘jika’ adalah sebuah kata yang absurd karena kata itu hanyalah sebuah kata belaka yang tak pernah mencapai realitasnya.

Agama-agama saat ini sudah memasuki wilayah panas. Dalam artian, agama sudah memasuki situasi warning (peringatan) yang bisa saja memicu perang antar manusia. Namun, penulis yakin agama lebih merupakan sebuah hak pilih ketimbang hak lahir. Hak lahir kadang memicu peperangan. Misalnya perang antar kulit. Mengapa mesti kulit hitam memiliki budaya rendah sedangkan budaya putih lebih tinggi? Apakah maksud dari ini? Belum lagi kita melihat sejarah amerika serikat di mana rakyat pribumi (suku Indian) diperangi oleh orang inggris di catatan sejarah. Hak lahir memicu antagonisme.

Setidaknya tulisan ini tak membahas apakah agama itu hak lahir maupun hak pilih, yang akan berkalut-kalut jika membahasnya. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan catatan sejarah dunia yang tak memiliki ujung yang pasti. Jika agama itu pekerjaan, maka apa yang terjadi?

Keikhlasan akan diuji
Ini bukanlah ilusi tapi melainkan fakta. Para kaum agamawan pastinya sudah mengenal hal ini. Para lulusan universitas jurusan agama mana pun akan melalui pengalaman pahit yang tak terhindarkan ini. Agama, tak dipungkiri lagi, merupakan suatu jurusan yang ada di setiap universitas saat ini. Apa lagi universitas tersebut merupakan universitas agama. Tentunya akan sulit jika ini dijadikan lahan pekerjaan.
Namun, menariknya jika ini dijadikan sebagai jurusan yang ada di universitas, maka ini akan lebih memanusiakan manusia ketimbang yang bukan berada di jurusan yang sama. Walaupun pada akhirnya, jurusan ini akan merasakan pahitnya. Ketika mereka bekerja demi materi, akan ada konflik batin dengan keikhlasan. Agama mengajarkan kita agar melakukan kebaikan demi sebuah amal kebajikan yang berasal dari diri kita, sedangkan pekerjaan lebih merujuk kepada dunia materi.
Jika kita bekerja dengan jurusan agama, konflik ini akan selalu menghantui kita. Apakah kita benar-benar beragama atau kita beragama atas nama materi?

Tak lepas dari konflik
Perang agama sudah sangat lama berada di catatan sejarah. Bahkan, perang sesama dalam satu agama pun. Menariknya, jika agama itu pekerjaan, maka agama memiliki perusahaan-perusahaan yang di mana pegawainya bertugas untuk menarik perhatian para konsumennya. Yang dijualnya adalah pedoman hidup mana yang lebih baik.
Tak lepas dari konflik kemungkinan besar ketika agama itu bersaing dengan agama lain yang dalam bentuk perusahaan itu. Memang sulit dipungkiri bahwa Marx melihat ini sebagai akhir lain dari kapitalisme (selain dari kesadaran para buruh). Perusahaan tentunya kapitalis. Karena tak mungkin menjalankan perusahaan jika tak kapitalis. Kapitalis merupakan budaya menghimpun pada satu titik baik itu dari segi materi maupun ide. Jadi mau tak mau perusahaan akan menimbulkan persaingan dengan perusahaan lainnya. Intinya mereka yang ada di perusahaan mencari cara untuk menjatuhkan perusahaan lainnya agar tak tersaingi. Mau tak mau akan berakhir konflik jika persaingan itu tak sehat.

Tuhan akan pensiun (dini)
Mungkin ini agak sedikit ekstrim. Tapi bagi pembaca yang sensitif, agar mohon memaklumi bahwa tuhan yang dimaksud di sini tak lain bersifat fiktif dan bukan fakta.
Posisi atau jabatan siapa yang tertinggi di dalam sebuah agama dan jika agama itu sebuah pekerjaan? Tentunya seorang atasan jika sebuah perusahaan, dan apakah itu Tuhan jika agama itu perusahaan?
Hal yang menarik dan sekali pun juga absurd ketika persaingan yang ditimbulkan mulai tidak sehat, main curang satu sama lain, promosi dengan kata-kata yang menarik perhatian tapi tak berkaitan dengan kenyataan, atau bahnkan memanggil seorang pembunuh bayaran (malaikat maut?) agar Tuhan di perusahaan agama lainnya bisa ditembak mati (?).
Tentunya tuhan akan melakukan pensiun dini jika persaingan antar perusahaan agama tak sehat. Atau mungkin mati ditembak oleh seorang pembunuh bayaran itu. Akan tetapi sebagai hukum alam, Tuhan yang bertindak boss mau tak mau melihat karyawan yang memiliki potensi agar bisa menggantikan posisi-Nya nanti. Toh, jika agama itu pekerjaan…

Ini akan menjadi kepiluan yang sangat… ironis.

Share:

0 comments:

Post a Comment