Wednesday, July 11, 2018

Kebencianku bukan cintamu


Sewaktu memungut sampah di rumah tetangga yang kaya, seorang gadis muncul menatapku dengan rasa iba. Aku melihat matanya dengan penuh rasa jijik. "Aku hanya seorang pemulung yang datang untuk memungut sampah yang dikumpulkan," hatiku berbicara. Dia pun mendatangiku dengan penuh perhatian, menanyakan siapa diriku, dan di mana aku tinggal. Tentunya itu membuatku membencinya. Tapi sebagai makhluk suci, yang taat pada agama, aku tetap tersenyum, dan menjawabnya dengan manis.

Ya, gadis yang berusia sama dengan usiaku, ya nama gadis itu ‘fatimah’. Fatimah, nama yang indah untuk seorang gadis seusia dia. Tapi tetap tatapan pertama itu terasa menjijikkan. Jijik bukan karena aku terpaksa menjawab pertanyaan-pertanyaannya, tapi jijik karena dia memperhatikanku, seakan-akan aku membutuhkan rasa kasihnya. Keibaannya yang membuatku jengkel, yang benar-benar membenci dirinya.

Keesokan harinya pun telah tiba. Aku pun melewati rumah Fatimah. Dan melihat sampah yang bertumpuk banyak yang tidak seperti biasanya di setiap pagiku. Aku pun mengambilnya, namun, di tengah-tengah pengambilan sampah tersebut, aku pun berhenti. Ini sepertinya tumpukan sampah yang sebegitu banyaknya seolah-olah Fatimah telah mengaturnya.

 Aku jijik dengan rasa kasihan itu. Dan membiarkan sisa sampah banyak itu berkeliaran di jalanan. Aku berniat di keesokan harinya aku tak akan melewati rumah Fatimah itu.

Hari-hari pun melewati usiaku, jalan demi jalan mewarnai angka sampah yang aku ambil dan uang yang aku peroleh. Di malam hari, aku bersama adik-adiku, Anton, dan Budi. Mereka berdua tetap bersekolah walau pun diriku yang seperti ini. Uang yang aku peroleh kujadikan modal buat sekolah mereka. Aku tak ingin mereka menjadi diriku, yang penuh kejijikan ini.

Mereka lumayan menghiburku, selalu. Sehabis pulang dari sekolah, kadang mereka membawa mainan bekas dari ribuan tumpuan sampah yang ada di samping rumah kardus kami. Mereka berdua sangat heboh bermain monopoli. Mereka bermimpi untuk menjadi orang kaya. Rasa mual pun muncul dalam badanku. Aku pun meneriaki mereka, “Ngapain jadi orang kaya?!”, mereka berdua tertawa. Yah, mungkin menertawakan karena mimpi mereka tak akan pernah tercapai.

Sewaktu di jalan memungut sampah, tiba-tiba seorang gadis muncul di hadapanku, dengan muka yang kusam dan kotor. Dia juga seorang pemulung yang sama dengan diriku. Aku pun ikut senang. Dia memperkenalkan diri. Hani, nama yang indah, terlalu indah untuk seorang pemulung. Sedangkan Fatimah sangat tak mencerminkan kepribadian jiwa yang agamais, kerjanya hanya main mata, yang membuatku jijik.

Setiap kali di jalan, Hani menemaniku. Sampai-sampai hubungan kami berdua pun sangat dekat. Kadang-kadang batas pertemanan kami menjadi kabur. Aku sering mengajak dia datang ke rumah kardus yang usang kami, dan bermain monopoli (mainan bekas) bersama-sama. Ketika aku berteriak karena jijik mendengar mereka menyebut orang kaya, Hani pun ikut tertawa.

Ada yang khas dari muka Hani. Kekhasan tak perlu melulu berhubungan dengan kulit putih, tapi yang jelas bisa menjadi suatu keistimewaan tersendiri. Dan kekhasan yang dimiliki Hani merupakan luka yang ada di pipi sebelah kanannya. Namun, setiap memasuki waktu magrib, tiba-tiba Hani pulang. Seakan-akan dirinya terbatas.

Hani tak hanya pulang kadang-kadang, tapi kegiatan pulang itu seperti rutinitas. Yang bagiku itu tak normal. Aku pun curiga, sehingga ada niatku untuk mengikutinya.

Pada sebelum malam tiba, Hani pun pulang. Aku pun mengikutinya dari belakang. Hani melewati jalan-jalan yang di mana-mana penuh tumpukan sampah. Aku pun mengejarnya, karena tiba-tiba dia menghilang di balik ribuan tumpukan seperti gunung-gunung itu.

Keesokan harinya, aku mulai risih. Aku merasa tatapan Hani sama yang dimiliki Fatimah. Tatapan yang membuatku jijik. Apakah hani mulai mengasihaniku?

Keesokan harinya lagi, aku pun merasa tak nyaman bersamanya. Aku tak tahu mengapa dia memiliki tatapan tersebut. Aku tak mengajak dia berbicara, dan membiarkan dirinya bersamaku memungut sampah.

Mungkin Hani merasakan apa yang kurasakan. Sehingga di hari selanjutnya, Hani pun menghilang. Aku pun mencarinya di tempat sebelumnya, yang di mana banyak tumpukan seperti gunung itu. Aku pun berjalan melewati udara yang terik di bawah marahnya matahari di langit sombong itu.

Berjalan melewati gunung-gunung sampah itu tak mudah. Aku harus menahan rasa baunya, tapi toh, ini lucu jika aku tak bisa menahan rasa baunya padahal ini adalah kebiasaanku setiap hari.

Salah satu gunung sampah itu, aku melihat dengan perasaan jijik. Ternyata ada mobil mewah, yang aneh. Karena pada saat itu aku melihat pandangan yang tak mengenakkan. Aku melihat fatimah sedang memakai make up di dalam mobil mewah itu. Kemudian, seketika fatimah keluar dari mobil mewah itu, dia berubah menjadi Hani!

Ternyata tatapan Hani dan Fatimah persis sama bukanlah suatu kebetulan! Karena kedua orang itu sama, mereka sama-sama Fatimah. Selama ini dia sudah berpura-pura menjadi Hani. Bekas luka di pipinya hanyalah kedok!

Keesokan harinya, aku pun tak datang untuk memungut sampah. Adik-adikku menggantikanku untuk sementara karena perasaan mual yang tak tertahankan ini membuatku sakit demam.

Adik-adikku pun datang bersama dengan orang ke tiga, yang terlihat kabur itu, samar-samar. Ternyata itu Hani!

Aku yang tak bisa berbicara karena aku sakit, Hani pun merawatku dengan penuh perhatian, dan mengatakan kalau dia mencintaiku. Tapi bagaimana mungkin aku mencintaimu jika kepura-puraanmu justru menambah rasa mualku. Apakah aku harus membencimu?

Suara Anton

Sebagai kakak kedua tertua, aku melihat kondisi kak Fathir makin parah. Budi dan Aku secara tak sengaja bertemu dengan kak Hani saat kami memulung, kami pun memanggilnya. Ketika kami membawa kak Hani, kami berdua sangat bersyukur. Di tengah-tengah tumpukan sampah ini, rawan  penyakit luka parah menjadi permanen. Mudah-mudahan kak Fathir bisa sembuh dengan membawa kak Hani, agar luka parah itu tak menjadi permanen.

___

Share:

0 comments:

Post a Comment